Usulan ini awalnya dicetuskan karena BPN Prabowo-Sandi menilai ada yang janggal karena banyaknya jumlah petugas yang meninggal. BPN Prabowo-Sandi memberikan penekanan 'bila perlu' dalam hal ini.
"Kami mengusulkan kemarin kalau dipandang perlu maka seluruh jenazah yang meninggal misterius karena kami tidak mendengar secara detail penyebabnya apa secara medis, maka jika perlu semua jenazah itu dibongkar untuk dilakukan autopsi. Supaya tidak ada kecurigaan di antara masyarakat," kata anggota BPN Prabowo-Sandi, Mustofa Nahrawardaya di gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (3/5).
Mustofa menyebut, ratusan petugas KPPS yang meninggal pada Pemilu 2019 adalah 'rekor'. Ia prihatin atas musibah ini.
"Karena ini rekor terbesar yang dialami, Pak polisi, petugas KPPS, maupun para saksi, maupun petugas pemilu lainnya ini menjadi keprihatinan kita semua. Jadi kematian hilangnya nyawa jangan dipakai guyonan, menawarkan uang jumlah berapa pun tidak etis," kata dia.
Usulan ini lantas menjadi kontroversi. Berikut respons atas usulan Mustofa:
Amali yang duduk di Komisi II menolak usulan itu dan menilai BPN telah mempolitisasi orang yang sudah wafat demi kepentingannya sendiri. Komisi II DPR yang membidangi masalah Pemilu dinyatakannya tengah prihatin dan bersedih dengan meninggalnya ratusan anggota KPPS.
"Itu namanya mempolitisasi orang yang sudah meninggal. Sudah lah, kita saja yang masih hidup yang berpolitik, jangan mengajak-ajak orang yang sudah almarhum," kata Amali, kepada wartawan, Sabtu (4/5).
Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf meniai usulan itu berlebihan. Istilah nggilani dipakai TKN soal usulan Mustofa.
"Nggilani! Asbun banget sih," ujar juru bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Irma Suryani, kepada wartawan, Jumat (3/5).
Tags : Usulan Prabowo Sandi Mustofa Jumat Pemilu Komisi Jokowi
(Sumber : https://writenes.blogspot.com/2019/05/kontroversi-bpn-prabowo-minta-jenazah.html )
Note* Halaman ini berisi cliping artikel silahkan buka link sumber untuk informasi lebih lengkap
Komentar
Posting Komentar