
"Sebenarnya kendalanya adalah kita itu di film 'Ambu' memakai Bahasa Sunda. Jadi memang waktu itu kendalanya ini film Bahasa Sunda, tidak Bahasa Indonesia. Jadi, kendalanya di situ, enggak semua orang ngerti Bahasa Sunda," kata Farid saat ditemui di Jakarta, Kamis.
"Which is berarti kita bikin film ini ada subtitle-nya. Mungkin dengan ada subtitle itu moodnya juga beda. Jadi ini, ke depannya tolong diperhatikan karena ini kan film budaya ya," tambah dia.
Farid mengungkapkan niatnya untuk mengenalkan budaya Jawa Barat ke seluruh daerah di Indonesia melalui film "Ambu".
"Jadinya pinginnya untuk next-nya kalau ada PH lain yang bikin film tentang budaya, coba di kasih layarnya yang banyak, di seluruh Indonesia. Biar orang Indonesia juga tahu budayanya sendiri," kata dia.
Farid mengaku pihaknya saat itu telah berupaya untuk menambah jumlah layar tayang untuk film "Ambu" di bioskop. Namun upaya tersebut tak berbuah hasil.
"Bener, kita juga udah sempet fight ya. Dalam arti beragumen ya 'enggak bisa dong' kita bilang 'karena ini film budaya, kita enggak mau hanya di Jawa Barat aja orang-orang tahu tentang budaya Baduy," tuturnya.
"Saya juga pingin biar Baduy juga tahu seluruh Indonesia' dan akhirnya setelah tayang banyak daerah2 lain yang 'pingin nonton, pingin nonton'," imbuhnya.
Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020
(Sumber : https://writenes.blogspot.com/2020/01/dapat-penghargaan-sutradara-film-ambu.html )
Note* Halaman ini berisi cliping artikel silahkan buka link sumber untuk informasi lebih lengkap
Komentar
Posting Komentar